Kami berlibur bersama keluarga ke Bali pasca tragedi peledakan bom di Legian Kuta. Disela-sela acara tur, kedua anak saya yang punya hobi membaca mengajak ke toko buku. Karena tidak tahu di mana letaknya, saya menanyakan kepada resepsionis hotel tempat saya menginap.
“Tidak jauh, Pak. Kira-kira setengah kilo dari sini. Di daerah Simpang Siur!” katanya.
Karena ingin bersantai sambil menikmati suasana sekitar hotel kami memutuskan untuk naik bendi.
“Ke toko buku di Simpang Siur, berapa Pak?” tanya saya ke kusir bendi.
“Delapan puluh ribu, Pak,” jawab kusir bendi.
Saya agak terkejut dengan jumlah yang disebutkannya. Saya mencoba menawar.
“Wah, nggak bisa Pak. Jauh sih,” ujarnya.
Saya bingung. Kata resepsionis dekat, tapi kusir bendi bilang jauh. Walau masih bingung, saya putuskan naik bendi tanpa menawar lagi. Alih-alih untuk membantu kusir bendi yang sudah tampak tua dan sepi turis, meskipun sebetulnya bisa naik taksi.
Ditingkahi suara sepatu kuda dan gemerincing asesoris yang ada di tubuh kuda saya berbasa-basi dengan kusir bendi. Dari pembicaraan, saya tahu umurnya sudah tujuh puluh tahun dan sudah menjadi kusir selama dua puluh tahun. Selama omong-omong, kadang-kadang apa yang saya sampaikan tidak ditanggapi. Kelihatannya ia sudah agak tuli.
Setelah beberapa lama menaiki bendi tersebut, menurut perhitungan mestinya sudah sampai tujuan.
“Kok ini tidak nyampai-nyampai,” batin saya.
Saya kemudian menanyakan hal ini kepada supir bendi.
“Berapa jauh lagi, Pak?”
Ia menjawab, waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke tujuan sekitar seperempat jam lagi. Saya merasa waktu yang dibutuhkan tidak selama itu.
“Bapak ini mau ke mana?” ujar saya.
Alangkah terkejutnya saya ketika ia menjawab akan ke Pantai Sanur. Seketika istri dan anak-anak tertawa. Dengan perasaan dongkol bercampur geli, saya jelaskan lagi bahwa tujuan kami ke toko buku di kawasan Simpang Siur. Mau marah bagaimana, lha kusirnya sudah tua. Lalu saya meminta agar bendi putar balik. Kusir bendi pun minta maaf. Dan membawa kami benar-benar ke toko buku di daerah Simpang Siur. Betul-betul simpang siur.
By Marsudijono (2003), Republika Minggu.
0 komentar:
Posting Komentar