Kamis, 13 Mei 2010

Mangga Baru Paha

Usai makan siang di Mall Mangga Dua Jakarta saya bersama dengan Agus dan Ari meluncur naik taksi ke stasiun kereta api Gambir. Selama perjalanan, kami berbasa-basi dengan sopir taksi.
“Bapak asli mana?” tanya saya ke sopir taksi.
“Dari Indramayu, Pak” jawab sopir taksi.
“Indramayu terkenal dengan mangganya ya, Pak?” tanya saya lebih lanjut.
“Wah, ini dimulai dari mangga lagi,” sahut sang sopir taksi tidak langsung menjawab inti pertanyaan.
“Lho…ada apa, Pak?” saya bertanya heran.
“Kayaknya Bapak-bapak ini seperti penumpang yang lain!” lanjut sopir taksi.
“Maksudnya, bagaimana, Pak?”
“Biasanya, pertanyaan diawali dari mangga, pertanyaan berlanjut ke paha..ha..ha..”
“Ha…ha…ha..” kami tertawa bersama.
Memang pertanyaan kami ke arah sana. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Indramayu terkenal dengan wanitanya
“Sebetulnya Indramayu itu tidak sejelek yang digambarkan orang, Pak!” ujar sang sopir agak membela diri, tidak mau tempat asalnya dibilang jelek.
“Trus, bagaimana, Pak?’
“Banyak cewek ngakunya orang Indramayu, padahal mereka dari daerah lain.”
“Lho, Bapak kok tahu?”
“Saya sudah lima belas tahun jadi sopir taksi di Jakarta. Sering dapat sewa cewek-cewek malam. Suatu hari saya dapat sewa cewek dari Mangga Besar. Saya tanya aslinya mana. Dia mengaku dari Indramayu. Setelah saya tanya Indramayunya mana, dia tidak bisa menjawab. Akhirnya dia mengaku dari daerah sekitar Indramayu. Itulah kurang ajarnya mereka!” jelas sang sopir agak sewot.

By HR Marsudijono (2008)

0 komentar:

Posting Komentar